Travel & Adventure
Secarik Catatan Perjalanan dari Klawasi, Pesisir Papua : Deretan Rumah di Atas Lautan
TRAVEL AND ADVENTURE
SECARIK CATATAN PERJALANAN
DARI KLAWASI, PESISIR PAPUA
DERETAN RUMAH DI ATAS LAUTAN
DERETAN RUMAH DI ATAS LAUTAN
MANUI AWOI AIRAU.
Dalam Bahasa Serui Ansus,
artinya rumah yang berada di laut. Dalam bahasa sehari-hari, masyarakat
setempat (dan yang menempatinya) menyebutnya RUMAH BERLABUH. Bentuk rumah ini
berupa rumah panggung yang dibangun di atas air dan terbuat dari kayu.
Mayoritas masyarakat yang tinggal di rumah berlabuh adalah masyarakat nelayan.
Saya dan Shinta baru dua jam menginjak tanah Papua, tapi kami
harus segera bergegas melakukan peliputan. Dari Rumah Singgah Sedekah Rombongan
(RSSR) Sorong, ‒bersama beberapa Kurir Sedekah Rombongan (SR) Sorong, kami bertolak
ke RSUD Sele Be Solu, Kota Sorong, mengunjungi pasien dampingan yang
tengah rawat inap.
Kegiatan dilanjutkan dengan makan siang di Warung Tampa Makang, ‒warung makan
yang menyajikan makanan khas Makassar dan Papua. Yang menarik justru setelah
ini, usai makan siang kami bergegas ke daerah Klawasi, Distrik Sorong Barat,
Kabupaten Sorong, ‒bersilaturahmi ke kediaman salah satu pasien dampingan.
Baca Juga :
Mobil Tanggap Sedekah Rombongan (MTSR) Sorong yang kami tumpangi
merapat ke pinggir jalan di tepian laut. Entah berapa lama, atau berapa jauh perjalanan dari
tempat makan ke tempat tujuan ini. *Kayaknya, sepanjang perjalanan waktu
itu aku tertidur di mobil, jadi aku nggak ingat
hihihi.. (Habis, capek dan ngantuknya nggak bisa kutahan. Gilak!) Tapi menurut Shinta, untuk
sampai ke tempat tujuan kira-kira memakan waktu dua sampai tiga puluh menit. Begitu
sampai, kami cepat-cepat turun dari mobil. Saya pun menemukan pemandangan
berbeda yang baru pernah kulihat saat itu : jajaran pemukiman warga berdiri di atas
lautan...
Ya! Rumah pasien dampingan yang kami kunjungi ada di RUMAH BERLABUH, tepatnya berada di Klawasi, Distrik Sorong Barat, Kabupaten Sorong, Papua Barat. Rumah-rumah berlabuh ini dibangun di atas lautan, fondasinya terbuat dari kayu-kayu dan bambu. Dinding-dinding dan atapnya kombinasi dari kayu dan seng. Bagian dalamnya kurang lebih sama, berlantai kayu, ruangan-ruangannya bersekat kayu lapis. Rumah-rumah itu mayoritas dihuni oleh keluarga-keluarga dari kalangan pra sejahtera.
Kami berkunjung ke rumah salah satu warga di sana, sekaligus
pasien dampingan kami, namanya Mama Yusmina. Untuk mencapai rumahnya, dari tepi
jalan saya harus menyusuri jembatan kayu. Jangan bayangkan saya bakal
menyebrang di jembatan yang bagus, justru jembatan ini tersusun dari kayu apa adanya.
Beruntungnya, letak rumah pasien tidak terlalu jauh dari daratan, hanya sekitar
dua puluh meter saja. Jadi saya pun tidak terlalu jauh berjalan menyusuri
jembatan kayu, hehe.
Ada rasa canggung ketika menyeberangi jembatan itu, takut
nyebur ke laut. Harus hati-hati ketika menyusuri jembatan yang
permukaannya tak rata itu. Saat itu saya merasa sedikit sulit untuk menyeimbangkan
langkah, mungkin karena kurang fokus. Kurasa waktu itu saya merasakan jet lag karena penerbangan malam
harinya. Belum lagi, kantuk dan lelah menyerang, rasanya seperti kehilangan
energi. *Jadi itulah alasan kenapa wajah saya di foto-foto di sesi ini terlihat
kurang stand out (baca: kucel),
bahkan pake make up pun nggak ngaruh cyn~ dan kantung mata saya, ahh
sudahlah...
Ketika didokumentasikan, tempat ini mungkin terlihat begitu
menawan dan instagramable. Tapi jangan salah, aslinya cukup
memprihatinkan, lho. Deretan rumah berlabuh itu terlihat serupa, konstruksinya
semi permanen dibangun seadanya. Belum lagi, sampah-sampah mengapung di bawah
rumah. Soal air bersih untuk kebutuhan memasak, mereka mengambil dari ‘daratan’
dan membawanya ke rumah mereka. Kalau laut sedang pasang, tinggi air bisa mencapai lantai rumah. Pada
saat itu gelombang laut pun katanya cukup menyeramkan. Tapi masyarakat yang
tinggal sudah biasa dan tak ada rasa takut sedikit pun dengan risiko-risiko
itu.
Tapi, warga lokal yang tinggal di sana terbilang ramah, ‒meski
secara penampilan terlihat seram. Ketika kami sapa dengan senyuman, mereka pun membalas dengan sikap lebih
ramah lagi walaupun wajah-wajah kami termasuk wajah “asing”. Mereka bahkan mengizinkan kami memotret mereka, setelah
sebelumnya meminta izin dari mereka. Memang, istilah tak kenal maka tak sayang
harus selalu dijunjung ketika memulai sebuah perkenalan. Rasanya, berbaur
dengan mereka pun bukan hal yang sulit.
Satu pengalaman baru saya dapat di hari pertama perjalanan saya
ke Papua.
Nuansa kekeluargaan amat terasa ketika saya
mengunjungi kampung ini, terutama di rumah Mama Rosmina. Hilang bayangan buruk
tentang warga lokal di sana (karena penampilan mereka). Hanya satu kendala, masalah
bahasa, tetapi komunikasi yang nggak nyambung itu bisa ditepis dengan sebuah
senyum yang ternyata bisa dimengerti bersama. Jadi, jangan takut merangkul
saudara kita dari timur sana...
RUMAH BERLABUH KLAWASI
KLAWASI, PESISIR PAPUA
‒ Teks oleh : Nisya Rifiani / Juni 2018 ‒
‒ Dokumentasi Foto oleh : Shinta Wuri Handayani ‒
:: Don’t copy any materials in this blog without permission
::


