Sudah Pernah Berkunjung ke Kelenteng Poncowinatan?

September 26, 2017
TRAVEL AND ADVENTURE

SUDAH PERNAH BERKUNJUNG KE KELENTENG PONCOWINATAN?


HELLO, KAWAN RANSEL! BEBERAPA WAKTU YANG LALU, SAYA BERCERITA TENTANG KELENTENG GONDOMANAN YANG TERLETAK DI KOTA YOGYAKARTA. KALI INI, SAYA INGIN BERKISAH KEMBALI TENTANG SEBUAH KELENTENG YANG BERADA DI KOTA YANG SAMA, YAITU KELENTENG PONCOWINATAN. SEBENERNYA, SUDAH LAMA SEKALI SAYA NGGAK BERKUNJUNG KESINI ‒SEJAK TERAKHIR KALI MENDATANGI KELENTENG INI BEBERAPA TAHUN LALU. TAPI ENTAH KENAPA INGATAN SAYA TERHADAP KELENTENG INI BEGITU LEKAT.

Ini vihara kelenteng yang digunakan sekaligus. Nama sebenarnya kelenteng ini adalah Zheng Ling Gong. Karena letaknya ada di Jl. Poncowinatan No. 16 Yogyakakarta, maka masyarakat rekat menyebutnya demikian. Lokasinya tepat di belakang Pasar Kranggan, tempat ini memang terkenal sebagai daerah pecinan (kawasan penduduk tionghoa). Tidak ada yang tahu pasti kapan kelenteng ini mulai dibangun. Namun menurut penjaganya, kelenteng ini mulai dibangun tahun 1881, dan diyakini sebagai kelenteng tertua di Yogyakarta


Saya mengunjungi kelenteng ini dulu sekali, waktu itu sedang ada kegiatan pemotretan model untuk sampul majalah tempas saya bekerja. Hmm, pastilah bukan saya modelnya... *Ya mana mungkin body sexy seperti pear ini jadi model sampul, wkwkwk... Saat itu saya jadi tim pemotretan model, jobdesk-nya macem-macem. Mulai dari bikin konsep, nyari modelnya, nyari lokasi untuk foto, nyiapin properti dan wardrobe, sampai mendampingi pemotretan dari awal sampai akhir. Itu sekilas gambaran pekerjaan saya, dulu.
*Sekarang juga masih berkutat di media, ding. Cuma jarang ada sesi pemotretan...

Kelenteng Poncowinatan dibangun di atas tanah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Awalnya Sultan HB VII memberikan tanah seluas 6.224 m2, daerah utara Tugu Yogyakarta kemudian ditetapkan sebagai kawasan penduduk tionghoa oleh Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Di atas tanah yang diberikan itulah, pertama-tama orang tionghoa mendirikan tempat peribadatan mereka yakni Kauw Lang Teng, yang kemudian mengalami perubahan penyebutan menjadi kelenteng.

Luas tanah Kelenteng Poncowinatan berbentuk persegi panjang yang melebar ke samping. Halamannya luas, bangunannya mengusung gaya arsitektur tionghoa dan sarat unsur budaya. Kondisi bangunannya sebagian masih asli seperti ketika dibangun pertama kali dulu. Lantainya menggunakan tegel, dindingnya berupa batu bata yang diplester. Atap kelenteng terbuat dari kayu jati, bagian luar dihiasi dua patung naga yang saling berhadapan. Pintu masuk ada di sayap kiri dan kanan, masing-masing pintu berdaun dua dan dihiasi lukisan Dewa Pintu Men Shen. Bagian depan pintu masih terdapat dua buah patung gilin yang terbuat dari pahatan batu kali utuh.

Di dalam kelenteng ada beberapa tiang penyangga yang dihiasi ornamen berukir, pun relief serupa juga tampak di beberapa dinding. Di bagian tengah terdapat altar untuk berdoa, di sana terdapat patung Kwan Tie Koen atau Dewa Keadilan. Dari ruangan inilah dimulai ritual sembahyang yang harus menyelesaikan sebanyak 17 altar sembahyang. Tiap altar harus membakar 3 buah hio yang merupakan sarana doa. Hio harus ditancapkan dalam posisi seperti kipas yakni satu di tengah dalam posisi tegak, dua di samping kiri dan kanan dalam posisi miring.

Di ruangan utama juga terdapat meja persembahan yang dapat dipergunakan bagi siapa saja yang ingin menyampaikan persembahan. Persembahan yang diberikan tidak boleh memiliki unsur duri seperti buah durian atau rambutan. Persembahan yang diberikan juga harus berjumlah ganjil. Pengelolanya juga menyediakan bantal duduk yang digunakan untuk berdoa di lantai. Selain itu, dekorasi ruangan penuh dengan ornamen-ornamen china. Warna merah mendominasi tempat ibadah ini, warna ini melambangkan kebahagiaan (menurut tradisi tionghoa).

Klenteng Poncowinatan dikelola oleh Yayasan Bhakti Loka. Sebenarnya dahulu luas kelenteng mencakup wilayah SMA Bhinneka Tunggal Ika hingga Universitas Budya Wacana (yang berada tepa di belakang kelenteng), tetapi kini tinggal sedikit yang tersisa.

TRADISI UNIK KELENTENG PONCOWINATAN

Satu tradisi unik Kelenteng Poncowinatan. Pada tahun baru Imlek dan cap go me tanggal 1 dan 15 penanggalan imlek (penanggalan berdasarkan bulan) kelenteng ini ramai dikunjungi umatnya. Terdiri dari umat Budha, Konghu Chu, Taoisme, dan orang-orang tionghoa, bahkan orang-orang umum lainnya. Perayaannya tidak identik dengan ragam tradisi tionghoa atau tiongkok saja, suasana berbeda dengan hadirnya nuansa adat jawa.

Biasanya persiapan dilakukan satu minggu sebelumnya, dengan melakukan ritual-ritual tertentu seperti ritual pemandian patung tuan rumah kelenteng, dan ritual-ritual lainnya. Pada saat perayaan, Kelenteng  Poncowinatan menggelar tumpengan merah putih. Tumpeng ini kemudian didoakan bersama, untuk kemakmuran umat, bangsa, dan negara. Usai memanjatkan doa, warga duduk dan makan bersama.

Kelenteng Poncowinaran merupakan peninggalan sejarah yang harus dilindungi dan dilestarikan.
Seperti Kelenteng Gondomanan, Kelenteng Poncowinatan ini juga menjadi salah satu benda atau Bangunan Cagar Budaya (BCB) Kota Yogyakarta. Bangunan Kelenteng Poncowinatan memperoleh Penghargaan Pelestarian Warisan Budaya Tahun 2005 Kategori Bangunan Ibadah. Sayangnya, Kelenteng Poncowinatan pernah mengalami kerusakan oleh perbuatan vandal sekelompok orang, Media 2013. Sasaran vandal yaitu patung gilin yang mengalami kerusakan pada bagian hidung dan mulutnya.

Kelenteng Poncowinatan menarik para wisatawan dan pelajar untuk berwisata, belajar, atau hanya sekedar melihat-lihat. Pengunjung yang datang tidak dikenai biaya masuk. Mmm… jadi tertarik mengunjungi tempat ini bukan??? Segera saja masukkan tempat ini dalam daftar kunjungan jalan-jalan kamu…

HOW TO GET THERE

KELENTENG PONCOWINATAN
Jl. Poncowinatan No. 16 Cokrodinatan, Jetis,
Kota Yogyakarta, Provinsi DIY, 55233.
[Map]


Akses ke Klenteng Poncowinatan ini sangat mudah karena berada di tengah Kota Jogja. Untuk menuju ke sana, bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Lokasinya tidak begitu jauh dari Tugu Jogja, dari sana berjalanlah ke arah utara (Jl. AM Sangaji), lalu berbeloklah ke kiri atau ke arah barat (Jl. Poncowinatan). Kelenteng ada di sebelah kiri atau utara jalan.
Atau, ikuti map yang saya cantumkan di blog post ini...

So so sorry~ Foto dokumentasi probadi dan dokumentasi pemotretan sudah menguap entah kemana. Jadi saya pakai foto yang disediakan oleh google ya...

‒ Teks : Nisya Rifiani ‒
Foto : Istimewa

Catatan Disclaimer :
Artikel serupa karya saya telah dipublikasikan di Majalah Remaja BIAS – Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olah Raga Provinsi DIY – Edisi 5 Tahun XV / 2011.
Artikel yang dipublikasikan di blog ini telah mengalami perubahan (penambahan maupun pengurangan) dari karya saya yang telah dimuat di blog sebelumnya maupun di majalah tersebut di atas.

4 comments:

  1. Wah terus inget pas dulu ketemu Mbak Nisya di Bias hehe. Aku nggak tahu lho ada kelenteng ini hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahh.. kapan2 coba kemari.. kamu kan suka makeup & fashion, foto2 di sini cakep lhoo... sayang foto2 ku entah kemana, wkwk

      Delete
  2. Replies
    1. Sudah pernah masuk? Sekali-kali coba masuk deh...

      Delete

Powered by Blogger.