Pesona Bukit Kapur Arosbaya di Bangkalan, Madura

August 30, 2017
TRAVEL AND ADVENTURE

BUKIT KAPUR AROSBAYA
WISATA ALAM YANG MEMESONA DI BANGKALAN, MADURA


BUKIT KAPUR AROSBAYA KINI MENJADI SALAH SATU DESTINASI WISATA HITS DI BANGKALAN, MADURA. SEMULA, BUKIT INI MERUPAKAN TAMBANG BATU KAPUR. NAMUN BELAKANGAN INI MENJADI RAMAI DIKUNJUNGI PARA WISATAWAN.

Turis domestik, maupun mancanegara, tertarik ke tempat ini karena pemandangannya yang unik. Bekas pahatan para penambang batu kapur meninggalkan corak seni pahat alami yang khas. Rupanya inilah yang menarik para wisatawan... Popularitas Bukit Kapur Arosbaya semakin melejit dengan adanya media sosial yang memposting dokumentasi keindahan temapat ini, yang secaa tidak langsung turut mempromosikan wisata alam ini.


Bukit Kapur Arosbaya letaknya berdekatan dengan Makam “Pesarean Air Mata Ibu”.
Lokasi tepatnya ada di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur (Pulau Madura). Tidak sulit menemukan situs sejarah ini karena sudah cukup terkenal sebagai wisata religi. Dari gerbang pesarean tersebut, berbeloklah ke kanan lalu ikuti jalan itu sepanjang kurang lebih setengah kilometer untuk sampai di Bukit Kapur Arosbaya. Jika masih kesulitan menemukan lokasinya, buka saja google maps karena wisata alam ini sudah ditandai sebagai tempat wisata...

BUKIT KAPUR AROSBAYA
[Map]


Akses jalanan menuju Bukit Kapur Arosbaya tidak cukup lebar: sempit dan sempit banget, medannya pun naik turun naik. Jalan hanya selebar satu kendaraan roda empat. Jika kamu menggunakan mobil, lebih baik parkir saja di dekat Gerbang Pesarean Air Mata Ibu. Selain untuk menghindari berpapasan dengan kendaraan lain, biaya parkir mobil di halaman depan bukit kapur tersebut terbilang cukup mahal yaitu sebesar dua puluh ribu rupiah. Sementara untuk motor atau kendaraan roda dua biaya parkirnya cukup tiga ribu rupiah sadja.

Bukit Kapur Arosbaya dikenal juga dengan nama “Bukit Pelalangan”. Sebenarnya, bukit ini dimiliki oleh masyarakat setempat. Kapling-kapling bukit pun sudah ditandai siapa pemiliknya. Meski bukit ini milik warga, namun pengunjung tetap dikenakan tiket masuk lokasi (retribusi) yaitu sebesar lima ribu rupiah per orang.


THINK SMART!
- Jika pergi ke sana, sebaiknya pakai kendaraan kecil aja, motor atau mobil kecil.
- Bawa juga pengemudi yang jago nyetir…
- Jangan sampai kena pungutan liar warga setempat yaa…

Area Bukit Kapur Arosbaya cukup luas, sekitar 3 hektar, luas banget. Ketika masuk ke kawasan bukit kapur, kita akan menemukan pelataran yang cukup luas yang digunakan untuk parkir kendaraan. Masuk ke dalam, pengunjung disambut oleh bukit kapur tak beraturan yang menjulang tinggi

Gurat pahat bekas penambangan yang ada di setiap badan tebing inilah yang menjadi daya tarik istimewa. Ada lumut yang menempel di sisi-sisi tebing. Semak, belukar, dan tumbuhan paku tumbuh di sudut-sudut bukit, menjadikan bukit kapur semakin eksotis.


Di antara tebing-tebing ada jalan setapak, masih alami. Menyusuri setapak diantara bukit itu seolah berjalan di labirin. Semakin masuk ke dalam, kita akan menemukan goa-goa dan relung-relung, mirip ruangan-ruangan ‒sesuai dengan kavling-kavling yang sudah ditentukan. Spotlight-spotlight muncul secara alami dari celah tebing. Di Bukit Kapur Arosbaya, banyak lorong yang dapat kita jelajahi. Bahkan, kita dapat naik ke atas bukit kapur dengan tangga-tangga alami yang ada di dalam relung.

INGIN MENGEKSPLORASI BUKIT KAPUR AROSBAYA SAMPAI KE ATAS?
BOLEH! TAPI HATI-HATI YA!

Di dalam relung Bukit Kapur Arosbaya ada beberapa tangga untuk naik ke atas tebing. Tangga terbuat dari pahatan bekas penambangan kapur di sana. Licin, tinggi, kemiringannya pun curam, berhati-hatilah kalau ingin naik ke atas sana. Terlebih, tidak ada alat bantu atau pegangan tangga. Mungkin kalo’ naiknya nggak masalah ya, tapi turunnya itu brooo. Ngeri-ngeri sedap gitu…

THINK SMART!
- Jika merasa ragu, urungkan saja niat manaiki tangga itu, daripada mempertaruhkan keselamatanmu…


Tekstur dan jenis batu kapur di sini berbeda dengan bukit kapur yang lain yang mayoritas berwarna putih. Batu kapur di sini cenderung berwarna merah merona kecoklatan. Konon katanya karena kadar besi yang tinggi, makanya warnanya jadi begitu… Sekilas, Bukit Kapur Arosbaya seakan mengingatkan kita pada Antelope Canyon di Arizona, Amerika Selatan. Masak??? Kalau nggak percaya, lihat deh foto-foto saya, keren kan... *yang keren saya lho (halah). Enggak ding, yang keren ya bukit kapur ini...

Di gua-gua dan relung-relung, angin tidak berhembus, jadi hawanya sudah pasti panas dan syumuk terutama di siang hari saat matahari tepat di atas kepala. Maka dari itu pakailah pakaian yang tipis dan menyerap keringat. Oh, ya, biar enggak terlalu kepanasan, datanglah saat pagi sekali, atau sore sekali pas hawanya syahdu gitu. Kira-kira sekitar jam 9 pagi atau jam 3 sore, kalau cuaca cerah kamu akan mendapatkan efek cahaya ray of light yang indah. Itu tuh, timing saat cahaya matahari jatuh miring memasuki relung gua lewat celah-celah tebing. View menjelang senja juga cukup indah.
Menurut saya, tidak semua tempat menarik untuk dijadikan spot foto. Jangan asal jepret, pintar-pintarlah mencari spot foto yang cihuy agar hasil fotomu juga keren. Dan, jangan lupa bawa kamera yang bagus (kalau ada), biar fotomu makin cetarrr... Setelah terkenal, Bukit Kapur Arosbaya juga sering digunakan untuk pemotretan model maupun pre-wedding loh. Gimana, tertarik bikin sesi foto di sana?

BUKIT KAPUR AROSBAYA INI MERUPAKAN TAMBANG KAPUR YANG MASIH AKTIF. BATU KAPURNYA JUGA MASIH TERUS DITAMBANG OLEH MASYARAKAT SETEMPAT, HINGGA SAAT INI.

Warga menyebut daerah tambang ini dengan nama “Bedel”. Saat saya berkunjung ke tempat ini bersama Kawan-Kawan  Kurir Sedekah Rombongan Bangkalan Madura, pas ada kegiatan menambang dan memotong batu kapur. Terlihat para penambang berkali-kali membawa batu kapur dari dalam relung, ke luar area bukit, bolak-balik. Ada pula penambang yang sedang memotong bongkahan batu kapur yang besar menjadi part-part yang lebih kecil. Sisa-sisa penambangan dan pahatan batu kapur ini menyisakan guratan relief yang cantik.


Sebenarnya, bukankah menambang bukit itu termasuk dalam kategori merusak alam?
Ya, benar. Tapi di lain sisi, di sini tangan jahil penambang menciptakan karya seni tersendiri.
Puluhan tahun bukit ini ditambang, tanpa disadari penambang meninggalkan jejak yang unik dan langka.

Sayangnya, tempat ini tidak dikelola dengan baik, padahal spot-spot di sana indah dan menarik. Misalnya, semak alami memang mendukung keaslian pemandangan bukit ini. Tapi banyak semak yang mengganggu, setidaknya semak itu bisa dirapikan agar memanjakan mata yang memandangnya. Beberapa relung-relung di dalam tebing juga ada genangan air. Selain berpeluang jadi sarang nyamuk, relung pemandangan relung yang tergenang air menjadi tidak indah.


Pengunjung juga terkesan cuek, karena banyak yang membuang sampah sembarangan. Mungkin karena pengelola tidak menyediakan tempat sampah kali ya... Jika warga dan pemerintah serius menjadikan tempat ini menjadi destinasi wisata, alangkah baiknya segera membenahi tempat wisata ini bersama-sama. Sayang sekali jika tempat seindah ini tidak terawat...

Antelope Canyon di Arizona, Amerika Selatan, hadir di Bukit Kapur Arosbaya, Bangkalan, Madura. Tak perlu jauh-jauh terbang ke negeri orang untuk melihat pemandangan yang serupa, jika bisa dinikmati di dalam negeri...


Buat Kawan-Kawan Kurir SR Bangkalan Madura, terima kasih sudah mengajak saya ‒dan shinta, menjelajah tempat ini yah... Benar-benar pengalaman yang nggak terlupakan...
Dari kiri ke kanan : Cak Sovan, Mbak Inda, Dadang, Soni, Pak Mukhlis, Ainul, Zamroni.
Sorry, Nuris nggak ada, salahnya nggak ikutan yeee...

‒ Teks by : Nisya Rifiani / Agustus 2017 ‒
‒ Foto : Shinta Wuri H. ‒
:: Please don’t copy any materials in this blog without permission ::

23 comments:

  1. wah eksotis sekali batuan ini ya , keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Mbak. batuan ini karakteristiknya berbeda dengan di daerah lain. Yuk, berkunjung ke sana...

      Delete
  2. Jadi sebenarnya, para penambang tanpa sengaja telah menambang batu sambil memahat karya yang artistik ya, hihihi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm, sebenernya mereka sengaja menambang, nah hasil tambangnya itu yang punya nilai artistik...

      Delete
  3. Iyaaa lhoo naik tangga kayak gt memang butuh keyakinan lebih, nek wani ojo wedhi2 nek wedhi ojo wani2 eaaaak

    ReplyDelete
  4. Wah padahal bagus ya bukit kapurnya. Sayang kalau ga di kelola. Panggil Genpi Madura coba:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu tebingnya milik pribadi sih mbak...
      Genpi juga urusannya apa?? Hahaha...

      Delete
  5. Kalau dilihat memang beda banget ya dengan bukit kapur di daerah Gunung kidul, ini lebih artistik kalau menurutku mbak.
    BTW kalau ke sana akses jalannya bagaimana mba, apakah sudah bagus?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukit kapurnya hampir sama, cuma kalo yang ini ditambabang mb, nggak dipahat secara sengaja.
      Akses jalannya bagus kok mbak, cuma harus melalui jalan sempit sekitar limaratusan meter ada kali ya...

      Delete
  6. Maksudnya dikapling2 warga itu untuk ditambang ya? Jadi penambang cuma boleh ambil kapur di kapling miliknya aja?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget makyo, bukit sudah dikapling-kapling atas nama pribadi. Jadi kalau mau nambang ya di kapling miliknya sendiri..

      Delete
  7. Kalau di Jogja mungkin hampir mirip dengan Tebing Breksi ya mba..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup mirip tebing breksi. bedanya, tebing breksi sengaja dipahat sedemikian rupa (artistik). Nah kalo ini enggak..

      Delete
  8. Awwwwww tebingnya keren bangetttt! Btw penasaran itu beberapa foto pake tambahan lensa smartphone yang khusus wide gitukah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa, kalau ke sana puas-puasin foto dah...
      Itu pake action camera mbak... :)

      Delete
  9. Aku penasaran sama Maduraaaa, katanya wisata alam yg beroksigen itu jg cakep ya Nisy? Ke sana ga kmrn?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukit Jeddih. Mau ke sana tapi bertolak arah sama yang ini, lagian di sana aku qerjaa mandaaa... jalan-jalannya tipis ajaa...

      Delete
  10. Wah keren banget nih mbak penampakannya, asik buat foto2 ya. Kalo di area Jogja jadi inget tebing breksi. Makasih mbak dah share pengalaman 😎

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup. Kalo' di Jogja, Tebing Breksi nih... Di Gunungkidul sepertinya juga mulai banyak wisata tebing-tebing kayak gini...

      Delete
  11. Kayanya medan buat ke sana beneran sulit yah... Tapi malah yang kayak gini nih yg menantang dan seru perjalanannya ahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. No no no, cuma sempit aja kok tapi masih bisa dijangkau pake motor...
      Yang menantang malah jelajah di area bukitnya, tapi seru!

      Delete
  12. huhuhuhu.. saya belum pernah ke Madura. Tahunya saya disana adanya garam melulu, ehhh ternyata ada bukit kapurnya juga. One day semoga sampai kesana. Thanks for sharing, mba Nisya :)

    ReplyDelete

Powered by Blogger.